“Palestina mungkin kini satu-satunya bangsa yang menuntut untuk selalu diutarakan, sebab ia dibatasi bukan oleh sebuah wilayah, tapi oleh sebuah paradoks: ia dibentuk oleh rasa penuh, bahkan meluap-luap, dalam kekosongan.” (2025, 102).
7 Oktober 2023 adalah monumen yang berangsur menyulut kesadaran dunia, bahwa Palestina telah melampaui penderitaan. Tanggal penanda Operasi Banjir Al-Aqsa Hamas itu, yang selanjutnya dibalas pembantaian bertubi-tubi oleh Zionis bukanlah serangan iseng tanpa alasan. Ia tidak hadir di ruang hampa. Lebih dari tujuh dekade ditekan kebejatan Zionis, pilihan yang sah dan mungkin bagi orang Palestina adalah melawan.
Buku “Wajah di Palestina: Percakapan Tentang Harapan dan Kematian di Gaza” disusun dalam patahan sejarah saat ini. Berisi kumpulan tulisan lintas zaman Goenawan Mohamad. Bukan hanya refleksinya yang diketik di tengah amukan rudal Israel dua tahun belakangan, tapi juga menghimpun catatan hasil lawatannya ke Tel Aviv, Yerusalem, Ramallah, serta sejumlah tempat lain di Palestina. Tugas jurnalistik memungkinkannya keluar-masuk Palestina sejak 1981. Dia pernah menemui Perdana Menteri Menachem Begin, Wali Kota Yerusalem Teddy Kollek, Menteri Pertahanan Ariel Sharon, hingga penyair kenamaan Palestina Mahmoud Darwish.
Apa yang dicatat Goenawan dalam buku ini menjadi bukti historis bahwa kejahatan kemanusiaan Israel tebal dan menyejarah. Operasi Hamas 7/10—yang selalu dijadikan dalih Zionis untuk membumihanguskan Gaza—bukanlah permulaan cerita. Pada 1948, ratusan desa di Palestina dihancurkan, lebih dari 750 ribu penduduknya diusir dan terpaksa menjadi pengungsi hingga detik ini. Itulah Nakba, sebuah bencana yang dirancang sistematis untuk membangun negara rasis dengan sesedikit mungkin bangsa Palestina di dalamnya.
Goenawan mengunjungi kamp pengungsi, menyusuri tempat-tempat berliput kegetiran sejarah. Dengan ketajaman seorang jurnalis dan kehangatan seorang sastrawan, ia memotret beragam fragmen Palestina—korban, pejuang, kemalangan, perlawanan, pengungsi, kematian, hingga syair yang menguar dari puing reruntuhan. Seperti biasa, menggugah, filosofis, dan humanis.
Di akhir tiap catatan ditulis tahun ketika tulisan itu terbit. Yang menjadi menarik, judul- judul di buku ini tak disusun secara kronologis, guna menegaskan bahwa penindasan terhadap Palestina seolah tak bergerak, tidak berubah, tak perlu lagi menatap jeli pada waktu. Ketika sesuatu telah menjadi rutinitas, yang terbentuk adalah identitas. Maka dimensi waktu tidak lagi perlu.
Palestina adalah ujian untuk menambatkan jangkar kemanusiaan kita pada kenyataan. Tak ada privilese waktu karena mesin penghancur Zionis beserta para sekutunya bekerja autopilot dan tanpa jeda. Bangsa Palestina secara konstan menderita. Merumuskan apa yang bisa kita lakukan menjadi mendesak. Setidaknya untuk melunasi tanggung jawab moral-personal atas dehumanisasi yang gamblang dan berkepanjangan. Karena rasanya terlalu muluk jika berharap pertobatan instan persekutuan jahat Zionis. Sadar realitas adalah bagian dari strategi dalam menjaga minat dan daya tahan untuk membuat Palestina menjadi mungkin.
Bagi Goenawan sederhana, mengapa dia tidak henti resah dan terus membela Palestina. Tak lain karena yang terjadi adalah pelecehan kemanusiaan, penjajahan. Bangsa Palestina dijajah oleh Zionis Israel. Dalam pengantar yang disampaikan oleh Haidar Bagir, Goenawan bahkan menegaskan keinginannya untuk pergi ke Gaza. Namun tersandung usia dan kondisi kesehatannya.
“Wajah di Palestina” mengajak kita untuk kembali bermenung, bahwa Palestina adalah kisah manusia yang tak henti mengimani hak mereka untuk pulang. Dan berjuang melawan menjadi bukti iman yang mereka ikrarkan. Bagi kita, yang dipandang dari sudut manapun punya lebih banyak hak istimewa ketimbang orang Palestina, maka membicarakannya adalah selemah-lemahnya iman. []
